Minggu, 09 September 2012

MODEL - MODEL PEMBELAJARAN


MODEL MODEL PEMBELAJARAN

A. Metode Role Playing

            Metode role playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi  dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung pada apa yang diperankan.
            Kelebihan metode role playing:
1. Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerja sama.
2. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
3. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
4. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan
5.  Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

B. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)

      Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam  kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
             Kelebihan metode problem solving:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berfikir dan bertindak kreatif.
3.  Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis.
4.  Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5.Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6.Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan khususnya dunia kerja
             Kelemahan metode problem solving:
1. Bebrapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misalnya terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2.Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang.

C. Metode Pembelajaran Berdasarkan Masalah
            Problem based instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran durumenyajikan masalah, mangajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
         Langkah-langkah
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topic, tugas, jadwal, dll)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan manyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau eveluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
        Kelebihan metode pembelajaran berdasarkan masalah:
1.  Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
2. Dilatih untuk dapt bekerja sama dengan siswa lain.
3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
         Kelemahan:
1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tudak tercapai.
2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
3.Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini.

D. Cooperative Script
            Script kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang di pelajari.
          Langkah-langkah
1.  Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak/mengoreksi.
5.  Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya.
6. Kesimpulan guru.
7. Penutup.
       Kelebihan:
1. Melatih pendengaran, ketelitian/kecermatan.
2. Setiap siswa mendapat peran.
3.  Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
       Kekurangan:
1. Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu.
2. Hanya dilakukan dua orang, tidak melibatkan seluruh kelas, sehingga koreksi hanya terbats pada dua orang tersebut.

E. Picture and Picture
            Picture and picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi pasangan logis.
        Langkah-langkah
1. Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai.
2.  Menyajikan materi sebagai pengantar.
3.  Guru memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4. Guru menunjuk siswa secara bergantian mengurtkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan alasan dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6.  Dari alasan tersebut guru mulai menanamkan materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan.
       Kelebihan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Merlatih berpikir logis dan sistematis.
      Kekurangan:
1.  Memakan banyak waktu, banyak siswa yang pasif

F. Numbered heads Together
            Numbered heads together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
             Langkah-lamgkah:
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota klelompok dapat mengerjakannya.
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nor yang lain.
6.  Kesimpula.
           Kelebihan:
1.  Setiap siswa menjadi siap semua.
2.  Dapt melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
3. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
            Kelemahan:
1. Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
2. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.

G. Metode Investigasi Kelompok
            Metode investigasi kelomppok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan tiopik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam komunikasi maupun ketrampilan proses kelompok. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen.
              Langkah-langkah:
1. Seleksi topic: para siswa memilih berbagai subtopic dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru
2.  Merencanakan kerjasama: para siswa dan guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus.
3. Implementasi:  para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan 
4. Analisis dan Sintesis: parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalm suatu penyajian yang menarik.
5. Penyajian hasil akhir: semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topic yang telah dipelajari.
6. Evaluasi: guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan.

H. Metode Jigsaw

Langkah-langkah
1.  Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen yang lebih kecil
2. Selanjutnya guru membagi siswa dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa
3. setiap anggota bertanggung jawab terhadap panguasaan suatu komponen yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya
4. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggung jawab terhadap subtopic yang sama membentuk kelompok lain yang terdiri dari dua atau  tiga orang
5. Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam  Belajar dan menjadi ahli dalam subtopic bagiannya
6.  Merencanakan bagaimana mengajarkan subtopic bagiannya kepada anggota kelompoknya semula
7. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai ahli dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopic tersebut kepada temannya. 
8. Ahli dalam subtopic lainnya juga bertindak serupa. Sehinnga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap materi yang ditugaskan oleh guru. 
9. Dengan demikian setiap siswa dalam  kelompok harus  menguasai topic secara keseluruhan.

I. Metode Team Games Tournament
            Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah di terapkan, melibatkan aktifitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsure permainan dan reinforcement.aktifitas brlajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Ada lima komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas: pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru.
2. Kelompok (team): kelompok biasanya terdiri dari empat atau lima orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan rasa tau etnik.
3. Game: game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan kelompok.
4. Tournament:  biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah gguru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah melakukan lembar kerja.
5.  Team Recognize (penghargaan kelompok): guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing tim akan mendapat sertfikat atau hadiah apabila memenuhi criteria yang ditentukan.

J. Model Students Team Achievement Division (STAD)
            Siswa dikelompokkan secara heterogen, kemudian siswa menjelaskan kepada anggota lain sampai mengerti.
         Langkah-langkah:
1.  Membentuk kelompok yang terdiri dari empat orang secara haterogen.
2.  Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memeberi tugas pada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok, anggota yang mengerti menjelaskan pada anggota yang lain sampai mengerti.
4. Guru memberi kuis pertanyaan pada seluruh siswa. Pada saat menjawab tidak bileh saling membantu.
5. Member evaluasi.
6.  Penutup.
         Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap
2. Melatih kerja sama dengan baik
        Kelemahan:
1.  Anggota kelompok semua mengalami kesulitan
2. Membedakan siswa

K. Model Example non Example
            Example non example adalah model belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan dengan kampetensi dasar.
          Langkah-langkah:
1.  Guru menyiapkan gambar-gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Guru menempelkan gambar dipapan atai ditayangkan lewat OPH.
3. Guru member petunjuk dan kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar.
4. Melalui diskusi kelompok dua sampai tiga orang siswa hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5. Tiap kelpmpok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
6  Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa giri mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
       Kelebihan:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar
2.   Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya
       Kelemahan:
1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar
2. Memakan waktu yang lama

L. Model lesson Study
            Lesson study adalah suatu metode yang dikembangkan di Jepang, dalam bahasa Jepang nya disebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh makoto Yoshida. Lesson study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/menguji praktik mengajar mereka agar lebih menjadi lebih efektif.
         Langkah-langkah:
1. Sejumlah guru bekerja sama dalamsatu kelompok kerja sama ini meliputi: perencanaan, praktek mengajar, observasi, refleksi/ kritikan terhadap pambelajaran.
2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajarang yang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang.
3. Guru yang membuat rencana pembelajaran kemudian mengajar dikelas sesungguhnya
4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut  mengamati proses pembelajaran sambil menyocokkan reancana pembelajaran yang telah dibuat. Nerarti tahap observasi etrlalui.
5. Semua guru dalm kelompok tersebut kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang berlangsung.
6. Hasil pengamatan tersebut kemudian diimplementasikan pada kelas pembelajaran tang sesungguhnya.
          Kelebihan:
1. Dapat diterapkan dalam semua bidang mulai seni, bahasa, sampai ,atematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas.
2.  Dapat dilaksanakn antar lintas sekolah.

M. Metode Spiral
Prose model yang lain, yang cukup popular adalah spiral. Model ini juga baru ditemukan, yaitu pada sekitar tahun 1988 oleh Barry Boehm. Model spiral adalah salah satu bentuk evolusi yang menggunakan metodel literasi natural yang dimiliki oleh model prototyping dan digabungkan dengan aspek sistematis yang dikembangkan dengan model waterfall, sedangkan tahap prototyping  adalah suatu model dimana software dibuat prototype.
Model ini juga mengkombinasikan topdown designe dengan bottom up designe menetapkan system global terlebih dahulu, baru dityeruskan dengan detail sistemnya, sedangkan bottom up desifne berlaku sebaliknya. Topdown designe biasanya diaplikasikan pada model waterfall dengan sequentialnya, sedangkan bottom up designe biasanya diaplikasikan pada model prototyping dengan feedback yang diperoleh dari dua kombinasikan tersebut, yaitu kombinasi antara designed an prototyping, serta top-down dan bottom-up, yang juga diaplikasikan pada model waterfall dan prototype, maka spiral model ini dapat dikatakan sebagai model proses hasil kombinasi dari kedua model tersebut. Oleh karena itu model ini biasanya dipakai untuk pembuatan software dengan skala besar dan kompleks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar